tata cara bayar fidiyah part 2

11 Juli 2013 pukul 09:32 | Ditulis dalam Tak terkategori | Tinggalkan komentar

dan fidyah itu adalah memberi makan dua kali kepada satu
orang miskin atau memberi bahan pangan seperti gandum setengah
sha’ atau membayar nilainya (dengan uang).” Dalam fatwa ini
disebut memberi makan orang miskin dua kali dikarenakan dalam
satu hari orang makan sekurang-kurangnya dua kali.
Dilihat dari segi sifat likuid dari uang sehingga lebih luwes
dapat digunakan untuk kebutuhan yang diprioritaskan oleh orang
miskin, maka menurut kami pendapat yang membolehkan pembayaran
fidyah dengan uang adalah lebih rajih. Ulama-ulama Hanafi ketika
membolehkan memberikan zakat fitrah kepada orang miskin dalam
bentuk uang beralasan bahwa uang lebih likuid sifatnya dan lebih
luwes penggunaannya. Selain itu juga karena alasan bahwa zakat
fitrah dan juga fidyah adalah kewajiban yang terletak dalam zimmah,
bukan kewajiban kehartaan yang dikaitkan kepada jenis harta
tertentu. Atas dasar itu kami berpendapat bahwa pembayaran
fidyah dalam bentuk uang adalah sah dan memenuhi ketentuan
perintah fidyah.
Dalam fatwa Majelis Tarjih yang termuat pada buku Tanya
Jawab Agama , jilid 2: 126-128, ketika menjawab pertanyaan tentang
kebolehan membayar zakat fitrah dan fidyah dengan uang, diuraikan
panjang lebar arti kata tha’am dalam ungkapan tha’am al-miskin
yang disebutkan dalam al-Quran. Menyarikan uraiannya yang
panjang, fatwa itu menegasakan,
Ringkasnya, pengertian tha’am dalam pengertian bahasa,
pengertian dalam al-Quran maupun dalam Hadis mempunyai
beberapa arti. Dapat berarti makanan, baik yang mentah maupun
yang matang. Dapat pula berupa suatu pemberian yang dapat
digunakan untuk memberikan santunan terhadap keperluan hidup
fakir/miskin, seperti uang [h. 128].
Akan tetapi dalam kesimpulan kurang diberi penegasan
mengenai boleh atau tidak boleh memberikan fidyah dalam bentuk
uang. Fatwa itu menyatakan, “Kesimpulannya membayar fitrah dan
fidyah, bagi yang tidak mampu melaksanakan puasa, yang utama
dibayar dengan memberikan makanan yang masih mentah seperti
beras dan sesamanya yang menjadi makanan harian si pembayar” [h.
128].
Oleh sebab itu, dalam fatwa yang sekarang ini dipertegas
kebolehan membayar fidyah dalam wujud uang berdasarkan alasan
seperti telah dikemukakan di atas.
Uraian panjang di atas, menyangkut pertanyaan yang diajukan,
dapat diringkas sebagai berikut:
1. Pembayaran fidyah bagi orang yang tidak menjalankan puasa
Ramadan karena uzur tetap seperti usia sangat lanjut, sakit
menahun, hamil dan menyusui, atau kerja sangat berat terus
menerus dapat dilakukan dalam bentuk memberi jamuan makan
(makanan siap santap), memberi bahan pangan 6 ons beras, atau
dalam bentuk uang senilai bahan pangan tersebut.
2. Pembayaran fidyah bagi orang sebagaimana tersebut pada
angka 1 di atas dapat dilakukan sekaligus dan dapat pula
dilakukan setiap hari serta dapat dilakukan di muka sejak awal
Ramadan dan dapat pula dilakukan kemudian, tetapi tidak dapat
dilakukan sebelum masuknya bulan Ramadan.
3. Pembayaran fidyah bagi orang sebagaimana tersebut pada
angka 1 di atas dapat dilakukan dengan memberikan seluruh
fidyah kepada satu orang miskin saja.
4. Pembayaran fidyah bagi orang sebagaimana tersebut pada
angka 1 di atas, bilamana berupa memberi makanan siap santap,
dapat dilakukan satu hari untuk seluruh hari Ramadan tidak
puasa dengan menjamu makan orang miskin sejumlah hari
Ramadan yang tidak dipuasai.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: