tata cara membayar fidiyah part 1

11 Juli 2013 pukul 09:29 | Ditulis dalam Tak terkategori | Tinggalkan komentar

Puasa Ramadan adalah salah satu kewajiban agama yang difardukan
atas setiap orang mukmin dewasa baik laki-laki maupun perempuan,
dan puasa Ramadan itu merupakan salah satu dari rukun Islam yang
lima yang wajib dijalankan. Tujuan ibadah puasa itu adalah sebagai
sarana pendidikan untuk membentuk manusia yang bertakwa dan
sekaligus sebagai wujud ketaatan kepada Allah swt. Namun demikian
Allah SWT di dalam al-Quran memberi perkecualian dari kewajiban
melaksanakan puasa Ramadan atas orang-orang tertentu yang karena
suatu atau lain sebab tidak bisa melaksanakan kewajiban tersebut.
Perkecualian ini diberikan sesuai dengan prinsip agama Islam itu
sendiri bahwa agama ini bertujuan untuk memberi rahmat kepada
manusia [Q. 21: 107] dan tidak bertujuan mempersulit manusia [Q. 5:
6; 22:78]. Bahkan dalam ayat puasa sendiri ditegaskan bahwa prinsip
pelaksanaan puasa itu adalah memudahkan sebagaimana firman Allah,
ﻳُﺮِﻳﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻜُﻢُ ﺍﻟْﻴُﺴْﺮَ ﻭَﻻَ ﻳُﺮِﻳﺪُ ﺑِﻜُﻢُ ﺍﻟْﻌُﺴْﺮَ
] ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : 185[
Artinya: Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak
menghendaki kesukaran bagimu [Q. 2: 185].
Atas dasar itu kepada orang-orang tertentu diberi keringanan
(rukhsah ) dalam menjalankan ibadah tersebut. Orang-orang yang
mendapat keringanan itu adalah:
1. Orang yang memiliki uzur sementara, yaitu orang sakit dan
bepergian (musafir). Mereka ini dibolehkan tidak puasa, tetapi
diwajibkan membayarnya (mengqadanya) pada hari lain di luar
bulan Ramadan. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam ayat 184
surat al-Baqarah yang menegaskan,
ﻓَﻤَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻣَﺮِﻳﻀًﺎ ﺃَﻭْ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻔَﺮٍ ﻓَﻌِﺪَّﺓٌ ﻣِﻦْ
ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﺃُﺧَﺮَ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﻄِﻴﻘُﻮﻧَﻪُ ﻓِﺪْﻳَﺔٌ ﻃَﻌَﺎﻡُ
ﻣِﺴْﻜِﻴﻦٍ ﻓَﻤَﻦْ ﺗَﻄَﻮَّﻉَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻓَﻬُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَﻪُ ﻭَﺃَﻥْ
ﺗَﺼُﻮﻣُﻮﺍ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَﻜُﻢْ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ] ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ :
184 [
Artinya: Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau
dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya
berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari
yang lain. Dan atas orang-orang yang berat menjalankannya
wajib membayar fidyah (jika mereka tidak berpuasa), yaitu:
memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan
kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu adalah lebih baik
baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui
[Q. 2: 184] .
2. Orang yang memiliki uzur tetap, yaitu orang lanjut usia yang
tidak lagi mampu berpuasa – seperti Ibu Hj. Maryam yang
berusia 80 tahun lebih dan tidak kuat lagi berpuasa –, orang
sakit menahun, orang yang penghidupannya adalah dengan
bekerja berat seperti kuli pekerja tambang, kuli pelabuhan atau
semacam itu yang apabila berpuasa mereka akan mengalami
kesulitan besar dan merasa teramat berat dan menderita.
Termasuk juga kategori ini adalah wanita hamil dan menyusui.
Kepada mereka ini diberi rukhsah (dispensasi, keringanan) untuk
tidak berpuasa, tetapi diwajibkan membayar fidyah, yaitu
memberi makan satu orang miskin untuk satu hari tidak puasa
dengan kadar sekurang-kurangnya satu mud bahan pangan pokok
(6 ons). Dasarnya adalah potongan ayat yang telah dikutip di
atas,
ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﻄِﻴﻘُﻮﻧَﻪُ ﻓِﺪْﻳَﺔٌ ﻃَﻌَﺎﻡُ ﻣِﺴْﻜِﻴﻦٍ
] ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : 184 [
Artinya: Dan wajib atas orang-orang yang berat
menjalankannya membayar fidyah (jika mereka tidak berpuasa),
yaitu: memberi makan seorang miskin [Q. 2: 184]
Dalam Tafsir al-Manar ditegaskan bahwa al-ladzina
yuthiqunahu berarti orang-orang yang amat berat dan amat sulit
menjalankan puasa meskipun jika dipaksakan bisa dilakukan tetapi
dengan masyaqqah (keadaan berat) yang besar (Juz II: 126]. Arti ini
meliputi orang-orang tua yang lemah, orang sakit menahun, pekerja
berat di pertambangan, kuli pelabuhan, tukang becak, supir
kenderaan besar jarak jauh, termasuk wanita hamil dan menyusui.
Mereka diberi rukhsah (keringanan) untuk tidak berpuasa tetapi
diwajibkan menggantinya dengan membayar fidyah. Akan tetapi,
sesuai dengan akhir ayat 184 al-Baqarah yang dikutip di muka, jika
mereka ini mengupayakan untuk berpuasa, maka hal itu lebih baik.
Jika seandainya mereka miskin sehingga tidak mampu membayar
fidyah, maka tidak ada kewajiban membayar fidyah, sesuai dengan
firman Allah,
ﻻَ ﻳُﻜَﻠِّﻒُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻧَﻔْﺴًﺎ ﺇِﻻَّ ﻭُﺳْﻌَﻬَﺎ ] ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : 286 [
Artinya: Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sebatas
kemampuannya [Q. 2: 286]
Mengenai cara membayar fidyah, apakah boleh dilakukan
sekaligus saja atau diecer dengan cara membayar setiap kali tidak
berpuasa Ramadan, maka sesungguhnya tidak ada ketentuan bahwa
wajib dibayar secara diecer setiap hari tidak puasa. Karena itu boleh
dilakukan pembayaran fidyah secara sekaligus baik sejak saat mulai
tidak puasa di bulan Ramadan maupun setelah selesai seluruh bulan
Ramadan karena itu lebih memudahkan sesuai dengan firman Allah
dalam Q. 2: 185 yang telah dikutip di atas dan dalam firman Allah,
ﻭَﻣَﺎ ﺟَﻌَﻞَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻣِﻦْ ﺣَﺮَﺝٍ ] ﺍﻟﺤﺞ : 78[
Artinya: Dan tiadalah Dia (Allah) membuat kesulitan bagimu dalam
(manjalankan) agama [Q. 22: 78]
Fatwa dari Lajnah Daimah dari Arab Saudi juga membolehkan
membayar fidyah secara sekaligus sebagaimana boleh juga
membayarnya secara diecer setiap hari tidak puasa.
Demikian pula, sesuai zahir ayat 184 al-Baqarah di atas, boleh
seluruh fidyah itu diberikan kepada satu orang miskin saja atau,
bilamana fidyah berupa memberikan makanan , boleh diberikan dalam
satu hari saja kepada sejumlah orang miskin sesuai jumlah hari tidak
berpuasa (memberi makanan satu hari saja untuk 30 orang miskin
karena membayar fidyah puasa 30 hari). Menurut Syaikh Usaimin
pandangan ini dianut oleh kebanyakan ulama Syafi’iah, Hanabilah,
dan sejumlah ulama Malikiah. Ibn Muflih (w. 763/1362) dalam Kitab
al-Furu’ (IV: 448) dan Ibn al-Mardawi (w. 885/1480) dalam kitab al-
Insaf (III: 291), keduanya dari mazhab Hanbali, menegaskan, “Boleh
menyalurkan pemberian makan kepada satu orang miskin secara
sekaligus.” Artinya seluruh fidyah diberikan kepada satu orang
miskin saja. Penegasan yang sama juga dikemukakan oleh Imam an-
Nawawi (w. 676/1277), seorang ulama Syafi’iah, dalam kitab Raudlah
ath-Thalibin (II: 246). Al-Bahuti (w. 1046/1636) dalam Kasysyaful-
Qina’ mendasarkan kebolehan tersebut kepada zahir ayat fidyah 184
al-Baqarah di atas. Seperti halnya memberikan seluruh fidyah boleh
kepada satu orang, maka boleh pula memberikan fidyah, bila dalam
bentuk makanan siap santap, kepada tiga puluh orang miskin dalam
satu hari saja, sesuai dengan zahir ayat fidyah di atas, juga sesuai
dengan yang dipraktikkan oleh Sahabat Anas Ibn Malik r.a., salah
seorang Sahabat Nabi saw yang ketika di usia tua tidak mampu lagi
berpuasa, lalu beliau mengundang makan 30 orang untuk satu hari
saja. Asar ini diriwayatkan oleh Ibn Mullas (w. 270/883) dalam
Suba’iyyat Abi al-Ma’ali , h. 18).
Adapun mendahulukan fidyah sebelum masuknya bulan Ramadan
tidak dapat dibenarkan karena fidyah itu adalah pengganti dari
suatu kewajiban yang tidak dapat dilaksanakan karena uzur tetap.
Sementara puasa Ramadan sendiri, sebelum masuknya bulan
Ramadan, belum wajib dilaksanakan, jadi belum ada kewajiban
sehingga karenanya tidak mungkin ada fidyah pengganti kewajiban.
Mengenai wujud fidyah yang dikeluarkan dapat berupa (1)
makanan siap santap seperti dilakukan oleh Anas Ibn Malik r.a.
dalam riwayat Ibn Mullas di atas, (2) bahan pangan seperti gandum,
cantel, tamar, atau beras. Hal ini difahami dari keumuman kata
tha’am (makanan) di dalam ayat fidyah (Q. 2: 184) di atas. Di dalam
hadis-hadis Nabi saw kata tha’am dipakai dalam dua makna, yaitu
makanan siap santap dan bahan pangan. Dalam hadis riwayat Muslim
Nabi saw bersabda,
ﺇﺫﺍ ﺩُﻋِﻲَ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﺇﻟﻰ ﻃَﻌَﺎﻡٍ ﻓَﻠْﻴُﺠِﺐْ
Artinya: Apabila seseorang kamu diundang makan (tha’am), maka
hendaklah ia memenuhinya (HR Muslim, Sahih Muslim, II: 1054).
Dalam hadis ini kata tha’am berarti makanan siap santap.
Sementara itu dalam hadis lain kata tha’am berarti bahan pangan,
misalnya dalam hadis Abu Hurairah,
ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﻗﺎﻝ ﻣَﺮَّ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑِﺮَﺟُﻞٍ ﻳَﺒِﻴﻊُ ﻃَﻌَﺎﻣًﺎ ﻓَﺄَﺩْﺧَﻞَ ﻳَﺪَﻩُ ﻓﻴﻪ
ﻓﺈﺫﺍ ﻫﻮ ﻣَﻐْﺸُﻮﺵٌ ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻴﺲ ﻣِﻨَّﺎ ﻣﻦ ﻏَﺶَّ ]ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ [
Artinya: Dari Abu Hurairah (diriwayatkan bahwa) ia berkata:
Rasulullah saw lewat pada seorang penjual bahan pangan (tha’am),
lalu beliau memasukkan tangannya ke dalam bahan pangan itu,
ternyata tipuan. Lalu Rasulullah saw berkata: Tidak termasuk umat
kami orang yang melakukan penipuan (HR Ibn Majah).
Dalam hadis ini dan banyak hadis lainnya kata tha’am berarti
bahan pangan. Jadi oleh karena itu fidyah dapat diberikan dalam
bentuk makanan jadi atau dalam bentuk bahan pangan. Yang
dimaksud dengan bahan pangan di sini adalah bahan pangan yang
berupa makanan pokok seperti gandum, cantel atau tamar. Di
Indonesia bahan pangan pokok adalah beras, yang dibayarkan
sebanyak 6 ons untuk satu hari meninggalkan puasa karena tidak
mampu berpuasa.
Dapatkah fidyah dibayarkan dalam bentuk uang senilai bahan
pangan? Mengenai pembayaran fidyah dengan uang, maka terdapat
perbedaan pendapat ulama. Fatwa Lajnah Daimah dari Arab Saudi
dengan mufti Abdul Aziz Ibn Abdullah Ibn Baz tidak membolehkan
membayar fidyah dalam bentuk uang. Tetapi fatwa itu tidak
menjelaskan alasannya. Fatwa itu hanya berbunyi singkat, “Tidak
memenuhi ketentuan apabila engkau membayar fidyah dengan uang
sebagai ganti memberi makan.” Fatwa-fatwa lain seperti fatwa
dari al-Azhar yang diberikan oleh Syaikh Hasanain Muhammad
Makhluf dan fatwa dari Dar al-Ifta yang dikeluarkan oleh Syaikh
Muhammad ‘Ali Jum’ah dan fatwa dari Komisi Fatwa Kuwait
membolehkan membayar fidyah dengan uang. Syaikh Hasanain
Muhammad Makhluf dalam salah satu fatwanya menegaskan bahwa,
“Apabila sakitnya tidak dimungkinkan untuk sembuh lagi, maka
wajib atasnya membayar fidyah seperti halnya orang tua yang lemah
… … … 

bersambung

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: